Awan, Hujan, dan Langit Hidupku
Bab 1 - Langit Masa Kecil
Aku lahir di Jakarta, pada tanggal 5 Agustus 1990, di sebuah rumah kecil yang tak jauh dari jalan raya. Sejak kecil, aku punya kebiasaan menatap langit. Entah kenapa, awan-awan putih yang perlahan bergerak di atas sana membuatku merasa tenang. Mereka seolah berjalan pelan, memberi pesan diam, bahwa tak apa jika tak tergesa.
Rumahku sederhana, di depannya ibu membuka toko kelontong kecil. Dari pagi sampai malam, aku sering membantu menjaga toko itu, menata barang, melayani pembeli, atau sekadar duduk di kursi sambil menatap langit lewat celah atap toko. Kadang awan lewat begitu santai di atas sana, membuatku lupa waktu.
Aku tumbuh dalam kesunyian. Sampai suatu hari, kakakku membawakanku gitar tua. Jemariku belajar menekan senar, memetik nada yang sumbang, hingga pelan-pelan menjadi lagu. Sejak itu, kalau sepi datang, aku hanya perlu duduk dengan gitar, lalu menatap awan. Sunyi tak lagi menakutkan.
Bab 2 - Awan Mendung di Masa Remaja
Hidupku berjalan seperti awan. Perlahan, tenang, kadang tanpa arah. Hingga tiba waktunya awan gelap menumpuk. Saat aku kelas dua SMK, ayahku meninggal dunia karena sakit jantung. Dunia yang kutatap dari bawah langit tiba-tiba menjadi asing. Hari-hari rasanya muram. Aku sering bolos sekolah dan mulai merokok. Asapnya memang tidak membuatku lupa, tapi menunda rasa sakit yang menekan dada.
Ibu tetap berusaha tegar. Ia seperti langit menampung semua awan, baik putih maupun kelabu, tanpa pernah benar-benar runtuh. Melihat ibu berjuang sendiri, perlahan aku pun sadar jika langit saja tak mengeluh meski hujan turun bertubi-tubi, kenapa aku harus menyerah?
saat aku menatap langit yang perlahan cerah setelah hujan semalam, aku tersadar sesuatu: awan sepekat apa pun tidak pernah benar-benar memutuskan hubungan dengan langit. Ia selalu kembali melebur, mencari bentuk baru.
Mungkin hidupku juga begitu.
Sejak saat itu aku mulai bergerak pelan-pelan sekali, seperti awan yang meninggalkan badai. Aku berhenti bolos. Setiap kali ingin menyerah, aku mengingat wajah ibu yang tetap menjadi langit bagiku: luas, tangguh, dan sabar memayungi.
Belajar terasa berat di awal, seperti berjalan menembus hujan badai. Tapi semakin jauh aku melangkah, langkahku terasa lebih ringan. Aku mengejar semua yang tertinggal, memperbaiki nilai yang tercecer, dan menata kembali hidup yang sempat porak-poranda.
Hingga akhirnya, hari kelulusan itu datang.
Langit hari itu biru bersih, awannya putih tipis, seolah ikut tersenyum. Untuk pertama kalinya sejak ayah pergi, aku merasa hujanku benar-benar reda.
Aku sadar:
awan tak pernah hilang, ia hanya bergeser, berubah, lalu menemukan bentuk yang lebih tenang.
Begitu pula diriku. Perlahan, aku kembali pada ketenangan yang dulu sempat kupikir tak akan kutemukan lagi.
Bab 3 - Gerimis Tentang Cinta
Di masa SMA, aku bertemu lagi dengan Sakura, teman SMP-ku. Dia seperti sinar tipis di balik awan, membuat dada terasa hangat. Kami dekat, saling menunggu pesan, tapi tak pernah benar-benar mengucapkan apa yang harusnya terucap. Sampai akhirnya hubungan kami merenggang tanpa kata pamit. Tak ada perpisahan, tak ada tangis, hanya diam yang perlahan melebar menjadi jarak. Suatu hari aku menatap langit dan tersadar dia sudah seperti awan yang tertiup angin. Makin jauh, makin kecil, lalu lenyap.
Di kampus, aku berkenalan dengan Melati dan Mawar. Awalnya hanya kagum biasa, tapi lama-lama kami dekat. Mawar lebih dulu menaruh hati padaku, tapi aku terlalu sibuk menebak perasaanku sendiri pada Melati. Hingga akhirnya Melati memilih pria lain, dan anehnya, hatiku baik-baik saja.
Berbeda dengan Mawar. Saat hari terakhir kami bersama, rasanya hujan turun paling deras di hidupku. Hari itu masih sering datang dalam mimpi. Aku duduk diam, mendengar hujan jatuh, menahan gemetar dalam dada.
Bab 4 - Badai & Pelangi
Waktu berjalan, seperti awan yang tak mau diam. Aku bertemu Edelweiss. Kami jatuh cinta, melewati masa-masa manis, lalu bertunangan. Namun sebelum menikah, badai datang. Edelweiss sempat dekat dengan dua orang lain, membuatku ragu melangkah. Aku hampir memilih pergi, tapi entah bagaimana Edelweiss memintaku tetap tinggal. Aku bertahan, meski cinta mungkin tak seutuh dulu.
Dari hubungan kami lahirlah dua bintang kecil: Aisyah dan Annisa. Mereka adalah pelangi setelah hujan panjang, dua anak perempuan yang tawanya bisa menembus semua awan kelabu di hatiku. Setiap mereka memanggilku "Abi", rasanya seperti matahari yang menembus rintik, membuat dunia tampak baru lagi.
Bab 5 - Langit Hari Ini
Sekarang aku masih tinggal di Jakarta, di rumah tempat aku dulu belajar menatap langit. Awan tetap berjalan, kadang putih, kadang abu, kadang menumpuk hitam lalu tumpah jadi hujan. Jika hujan datang, aku biarkan. Karena aku tahu, hujan tak hanya membuat basah, tapi juga membersihkan debu yang diam terlalu lama di hati.
Aku sering duduk di teras, menatap awan berjalan pelan. Sesekali mengingat Ayah, Ibu, Kisah Cintaku, juga masa-masa aku memetik gitar sendirian. Hidupku memang tak selalu cerah. Tapi bukankah langit justru indah karena ada awan yang datang dan pergi?
Catatan untuk Diri Sendiri
"Tak apa jika awanmu kelabu, tak apa jika hujan turun deras. Langitmu tetap luas, hatimu tetap cukup untuk memeluk semua rasa."
Aku belajar bahwa hidup tak selalu tentang siapa yang tetap tinggal, tapi tentang siapa yang sempat datang dan memberi warna, seperti awan yang hanya lewat sebentar, atau hujan yang hanya turun sejenak, namun meninggalkan tanah lebih subur setelahnya.
Dan langitku, meski sering gelisah, akan selalu ada untuk menampung semuanya.
Comments
Post a Comment